Jingga Institute 2.0

   

Jingga Institute lahir bukan dari ambisi besar, melainkan dari keprihatinan yang mendalam terhadap kehidupan masyarakat di kampung kami.

Pada tahun 2015, Brian Kamoed yang akrab disapa Abi Jingga dan Diah Din Puspasari atau Ummi Jingga mendirikan Jingga Institute. Saat itu, mereka melihat realita yang menyayat hati di kampung mereka: ketika musim panen tiba, warga bisa tersenyum dan berkecukupan. Namun begitu memasuki masa paceklik, banyak keluarga jatuh ke dalam kesulitan yang berat. Rumah tangga yang semula cukup, tiba-tiba kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Di tengah keprihatinan itu, Abi dan Ummi Jingga melihat sesuatu yang selama ini terabaikan: pekarangan rumah yang luas namun hanya digunakan untuk hal-hal biasa. Padahal, lahan kecil di sekitar rumah itu menyimpan potensi luar biasa untuk menjadi sumber pangan dan penghasilan keluarga.

Dari situlah api semangat dinyalakan. Mereka mulai mengajak tetangga-tetangga terdekat untuk memanfaatkan pekarangan secara produktif. Bukan sekadar menanam, melainkan menanam dengan cara yang cerdas. Mereka memperkenalkan sistem hidroponik yang sederhana, efisien, dan bisa dilakukan di lahan sempit. Awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun perlahan mulai membuahkan hasil — baik berupa sayuran segar untuk konsumsi keluarga maupun peluang penghasilan tambahan.

Jingga Institute lahir dari cinta seorang keluarga kepada kampungnya. Dari keinginan sederhana agar setiap keluarga tidak lagi takut menghadapi paceklik, karena mereka telah belajar menjadikan rumah mereka sendiri sebagai “ladang kecil” yang produktif.

Perjalanan ini tidak selalu mulus. Setelah beberapa tahun berjalan, Jingga Institute sempat vakum selama bertahun-tahun. Kesibukan keluarga yang semakin padat membuat gerakan ini harus beristirahat sejenak. Namun, meski tertidur, api semangat itu tidak pernah benar-benar padam di hati keluarga Jingga.

Kini, babak baru telah dimulai.

Dengan penuh haru dan kebanggaan, Jingga Institute diwariskan kepada generasi berikutnya. Mentariku el Jingga dan Lembayungku el Jingga, anak-anak Abi Jingga dan Ummi Jingga, melanjutkan perjuangan orang tuanya dengan semangat yang baru dan pemikiran yang lebih segar. Mereka membawa energi muda, ide-ide kreatif, serta tekad yang lebih kuat untuk membawa perubahan yang lebih luas.

Lahir lah Jingga Institute 2.0 — bukan sekadar kelanjutan, melainkan kebangkitan dengan napas baru. Lebih terstruktur, lebih inovatif, dan lebih berdampak.

Kami percaya, perubahan besar selalu dimulai dari hal yang kecil. Dari sebuah pekarangan, dari sebuah keluarga, dari sebuah kampung. Jingga Institute hadir untuk membuktikan bahwa kemandirian pangan bukanlah mimpi, melainkan pilihan yang bisa diwujudkan oleh siapa saja, dimulai dari rumah sendiri.

Kami mengajak Anda semua — para orang tua, pemuda, ibu rumah tangga, dan komunitas — untuk bersama-sama menjadikan setiap pekarangan sebagai sumber kehidupan, ketahanan, dan kesejahteraan.

Dari pekarangan kecil, kita bangun kemandirian yang besar. Dari keluarga kecil, kita sebarkan harapan yang luas.

Jingga Institute — Menanam Hari Ini, Menuai Kehidupan.

Jingga Institute

Penulis di Jingga Institute

Artikel ini ditulis oleh tim Jingga Institute yang berdedikasi untuk memberdayakan masyarakat melalui edukasi pertanian dan keberlanjutan lingkungan.

Kembali ke Berita